Saturday, 22 April 2017

Sepuluh Hal yang Sia-sia Menurut Sayyidina Utsman

Sepuluh Hal yang Sia-sia Menurut Sayyidina Utsman
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani pernah menulis pernyataan Sayyidina Utsman bin Affan dalam kitab Munabbihât ‘alâs –ti‘dâddi li yaumil Mî‘âd tentang sepuluh hal yang paling sia-sia.
Pertama, orang ‘alim yang tidak ditanya mengenai ilmunya. Tentang hal ini ada dua kemungkinan, yakni karena orang alim itu enggan mensyiarkan ilmunya atau karena orang-orang awam di sekitarnya menjadi orang alim sebagai sumber rujukan. Kedua-duanya merupakan perilaku negatif karena ilmu seyogianya menjadi pedoman agar tiap langkah dalam kehidupan ini berjalan sesuai dengan rel yang tepat.
Kedua, ilmu yang tak diamalkan. Senada dengan yang pertama tadi, ini adalah gejala di mana orang-orang tak terlalu menghargai ilmu. Bukan saja pemilik ilmu, bahkan juga ilmu itu sendiri. Ilmu diperoleh namun tidak dilaksanakan. Fenomena ini sangat sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Betapa banyak di antara kita yang mengerti bahwa berbohong adalah dosa, namun di saat yang sama kita melanggarnya. Betapa banyak pejabat pintar yang korupsi. Dan betapa banya orang yang mengerti hukum yang terjerat kasus hukum. Semua ini dikarenakan ilmu yang ada dalam diri mereka sia-sia belaka, tak memberi kemanfaatan bagi kebaikan hidup mereka.
Ketiga, pendapat yang benar namun ditolak. Islam sangat menganjurkan para pemeluknya untuk bermusyawarah. Ajaran ini didorong oleh ajakan agar manusia terbuka dengan pendapat orang lain. Ketika pendapat itu benar maka harus diakui benar. Kebenaran tidak ada kaitannya dengan siapa yang mengatakannya. Karena itu menjadi salah bila kita menolak pendapat yang benar hanya karena yang mengemukakannya adalah orang yang kita benci. Kebenaran dan kebencian adalah dua hal yang berbeda dan harus dipisahkan.
Keempat, senjata yang tidak digunakan. Senjata dalam pengertian hari ini bisa dianalogikan sebagai kekuasaan. Ketika kita memiliki kewenangan untuk menekan, misalnya jabatan politik atau posisi strategis lainnya, dan tidak dimanfaatkan untuk kebaikan, maka kewenangan itu akan sia-sia. Senjata adalah simbol kekuatan dan sungguh sayang sekali orang yang tak mampu memanfaatkan kekuatan tersebut dengan baik.
Hal sia-sia yang kelima adalah masjid kosong dari orang shalat. Esensi masjid adalah tempat untuk bersujud. Jika fungsi ini hilang, hilang pula hakikat ia sebagai masjid. Keterangan ini juga bisa dimaknai masjid yang mulai dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan jangka pendek segelintir saja, semisal politik praktis. Atau bisa pula dijadikan kritik terhadap keadaan ironis masa kini, di mana masjid kian banyak dan dibangun secara megah namun tidak kian menarik jamaah untuk lebih nyaman di dalamnya. Masjid menjadi tempat yang kian asing. Aktivitas-aktivitas keagamaan semakin sepi.
Keenam, Al-Qur’an yang tidak dibaca. Kitab suci sekadar menjadi kitab yang disucikan, bukan sekaligus dibaca lalu diamalkan. Padahal, membaca Al-Qur’an meski si pembaca tidak mengerti artinya bernilai pahala. Apalagi bila ia mau belajar kandungan makna di dalamnya untuk kemudian mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik yang berkenaan dengan hubungan kepada Allah maupun sesama makhluk.
Hal sia-sia berkutnya, ketujuh, adalah harta yang tidak diinfakkan. Sayyidina Utsman secara tersirat hendak mengingatkan bahwa harta yang digunakan untuk keperluan sehari-hari lantas lepas dari status sia-sia. Sebab, harta juga mesti diinfakkan. Ketika tanggung jawab yang kedua ini hilang, maka hilang pula nilai kemanfaatan dari harta tersebut. Itulah alasan mengapa Islam mewajibkan zakat dan menekankan keutamaan bersedekah. Infak dari sebuah kekayaan sekecil apa pun jumlahnya bernilai berkah dan menyucikan harta secara keseluruhan.
Kedelapan, kendaraan yang tidak ditunggangi. Kendaraan adalah alat untuk menuju tujuan tertentu. Karena ia adalah wasilah (perantara). Di zaman serbacanggih ini wujud wasilah begitu banyak, mulai dari alat transportasi, media sosial, alat komunikasi, dan lain-lain. Tingkat kemudahannya mungkin ratusan kali lipat dari “kendaraan” yang ada pada era Nabi. Namun, apakah wasilah-wasilah di zaman sekarang lebih bermanfaat daripada zaman itu? Ini menjadi bahan renungan kita bersama.
Kesembilan, ilmu zuhud di hati orang yang cinta dunia. Artinya, sia-sia seseorang berlajar ilmu tentang zuhud tapi hatinya belum bisa lepas dari cinta dunia. Sebab zuhud bukan semata berurusan dengan pengetahuan, melainkan tentang olah batin untuk mendudukkan segala hal selain Allah dalam posisi yang tidak prioritas.
Kesepuluh, umur panjang yang tak dimanfaatkan untuk mencari bekal (ke akhirat). Ini namanya penyia-nyiaan kesempatan. Peluang hidup di dunia hanya sekali, dan umur yang telah dilewati juga tak akan pernah kembali. Begitu usia kita habis hanya untuk perkara duniawi dan urusan diri sendiri, sia-sialah kita usia kita. Apalagi dalam Al-Qur’an kita sudah dingatkan bahwa kehidupan di akhirat adalah lebih utama ketimbang kehidupan di dunia. Wallahu a'lam bish shawab.
Semoga khatib pribadi dan jamaah sekalian diberikan kesanggupan untuk menjaga segala karunia yang Allah berikan agar bermanfaat dan jauh dari kesia-siaan.
nu.or.id

Friday, 31 March 2017

Motivasi Islam - Belajar dari Tiga Binatang yang Disebut Al-Qur'an


Setidaknya ada tiga binatang kecil menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur’an, yaitu Al-Naml (semut), Al-'Ankabut (laba-laba), dan Al-Nahl (lebah). Bila kita amati secara seksama, masing-masing binatang ini memiliki karakter khas yang bisa menjadi kiasan dari kehidupan manusia.


Semut menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Konon, binatang kecil ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun sedangkan usianya tidak lebih dari satu tahun. Kelobaannya sedemikian besar sehingga ia berusaha–dan seringkali berhasil–memikul sesuatu yang lebih besar dari badannya, meskipun sesuatu tersebut tidak berguna baginya.


Dalam surah Al-Naml antara lain diuraikan sikap Fir'aun, juga Nabi Sulaiman yang memiliki kekuasaan yang tidak dimiliki oleh manusia mana pun sebelum dan sesudahnya. Ada juga kisah seorang raja wanita yang berusaha menyogok Nabi Sulaiman demi mempertahankan kekuasaan yang dimilikinya.


Lain lagi uraian Al-Quran tentang laba-laba: Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh. Sebagaimana disinggung oleh surah Al-Ankabut ayat 41:


مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا ۖ وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ



Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.”


Rumah laba-laba bukan tempat yang aman, apa pun yang berlindung di sana atau disergapnya akan binasa. Jangankan serangga yang tidak sejenis, jantannya pun setelah selesai berhubungan seks disergapnya untuk dimusnahkan oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan sehingga dapat saling memusnahkan. Demikianlah kata sebagian ahli. Sebuah gambaran yang sangat mengerikan dari sejenis binatang.



Lantas bagaimana dengan lebah? Al-Qur’an memiliki insting yang—dalam bahasa Al-Quran lebah bergerak atas atas ilham dari Tuhan sehingga ia mampu memilih memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal.


وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ


Artinya: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia’." (QS An-Nahl: 68)


Sarang lebah dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar tidak terjadi pemborosan dalam lokasi. Yang dimakannya adalah kembang-kembang yang tidak seperti semut yang menumpuk-numpuk makanannya, lebah mengolah makanannya dan hasil olahannya adalah lilin dan madu yang sangat bermanfaat bagi manusia. Lilin digunakan untuk penerang dan madu—kata Al-Quran—dapat menjadi obat yang menyembuhkan. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, dan segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali yang mengganggunya, bahkan sengatannya pun dapat menjadi obat.



Sikap hidup manusia seringkali diibaratkan dengan berbagai jenis binatang. Jelas ada manusia yang "berbudaya semut", yaitu menghimpun dan menumpuk ilmu (tanpa mengolahnya) dan materi atau harta benda (tanpa disesuaikan dengan kebutuhannya). Budaya semut adalah "budaya menumpuk" yang disuburkan oleh "budaya mumpung". Tidak sedikit problem masyarakat bersumber dari budaya tersebut. Pemborosan adalah anak kandung budaya ini yang mendorong hadirnya benda-benda baru yang tidak dibutuhkan dan tersingkirnya benda-benda lama yang masih cukup indah untuk dipandang dan bermanfaat untuk digunakan. Dapat dipastikan bahwa dalam masyarakat kita, banyak sekali semut yang berkeliaran.


Entah berapa banyak jumlah laba-laba yang ada di sekitar kita, yaitu mereka yang tidak lagi butuh berpikir apa, di mana, dan kapan ia makan, tetapi yang mereka pikirkan adalah "siapa yang akan mereka jadikan mangsa. Ia menjadi kiasan dari sifat manusia mencelakakan, dan rumah/lembaganya yang menjadi pelindungnya menjerumuskan siapa saja yang terpikat olehnya.



Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengibaratkan seorang Mukmin sebagai lebah, sesuatu yang tidak merusak dan tidak pula menyakitkan: Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya.


Lebih rinci lagi, lebah setidaknya memiliki tiga keistimewaan yang dapat menjadi analogi tentang karakter ideal manusia. Pertama, lebah tak merusak ranting yang ia hinggapi, sekecil apa pun pohon tersebut. Hal ini memberi pelajaran manusia agar menghindari berlaku yang menimbulkan mudarat atau kerugian terhadap orang lain. Lebah memang datang untuk makan, tapi ia tak ingin merusak untuk kepentingannya pribadinya itu. Bahkan kerap kali lebah justri berjasa dalam proses penyerbukan sebuah bunga yang ia hinggapi.


Kedua, lebah makan sesuatu yang baik-baik, yakni saripati bunga, sehingga yang dikeluarkannya pun baik-baik, yakni madu. Manusia dituntut dalam kehidupan yang serba halal. Rezeki yang halal akan membuahkan perilaku yang positif .


Source: http://www.nu.or.id

Sunday, 26 March 2017

BEASISWA UNGGULAN KEMDIKBUD TAHUN 2017 B#2

BEASISWA UNGGULAN KEMDIKBUD TAHUN 2017 B#2

June 1 - July 31

Telah dibuka kembali Beasiswa Unggulan Kemdikbud 2017 untuk S1, S2 dan S3. Sesuai Permendikbud nomor 95 tahun 2013 tentang Beasiswa Unggulan, maka beasiswa diberikan kepada putra-putri terbaik bangsa Indonesia. Beasiswa Unggulan Masyarakat Berprestasi (MAPRES) terdiri dari Beasiswa Degree dan Beasiswa NonDegree. Beasiswa Degree adalah Beasiswa Unggulan Kemdikbud (Kemendikbud) yang ditujukan kepada:
  • Peraih medali/penghargaan olimpiade/kompetisi internasional  di bidang : sains, penelitian ilmiah, keterampilan, seni,  olah raga, dan bahasa yang dilaksanakan dan difasilitasi oleh Kemendikbud dan/atau oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
  • Masyarakat berprestasi tingkat nasional atau internasional di segala bidang dan umum (kecuali dosen)
  • Beasiswa Degree hanya diperuntukan untuk tujuan dalam negeri.
Beasiswa Non Degree adalah Beasiswa Unggulan Kemdikbud (Kemendikbud) yang diperuntukan bagi masyarakat berprestasi (guru, tenaga kependidikan pada tingkat PAUD sampai SMA/SMK, pegiat budaya, seniman dan pegiat sosial kecuali dosen) untuk mengikuti program residensi, menjadi pembicara dalam workshop atau konferensi, utamanya bidang pendidikan dan kebudayaan. Program beasiswa ini bukan beasiswa bantuan riset studi. Pendaftaran beasiswa Non Degree dilakukan dengan cara mengirimkan berkas pendaftaran ke kantor sekretariat Beasiswa Unggulan.
PERSYARATAN DAN KELENGKAPAN BERKAS BEASISWA DEGREE
Berikut info persyaratan Pendaftaran Beasiswa Unggulan Kemdikbud (Kemendikbud) untuk jenis Beasiswa Degree tahun 2017:
Beasiswa Degree Jenjang S1:
Mahasiswa Baru
  1. Maksimal 22 tahun
  2. Memiliki LoA Unconditional perguruan tinggi minimal akreditasi B
Mahasiswa On Going
  1. Maksismal 22 tahun
  2. Maksimal semester 3 pada perguruan tinggi minimal akreditasi B
  3. IPK, PTN 3.00 PTS 3.25
  4. Jenjang S1 tidak memerlukan TOEFL/IELTS
Beasiswa Degree Jenjang S2:
Mahasiswa Baru
  1. Maksimal 32 tahun
  2. Memiliki LoA Unconditional perguruan tinggi minimal akreditasi B
  3. IPK S1, PTN 3.25 PTS 3.50
  4. TOEFL ITP 500/IBT 61, atau IELTS 5.5
Mahasiswa On Going
  1. Maksimal 32 tahun
  2. Maksimal semester 3 pada perguruan tinggi minimal akreditasi B
  3. IPK S1, PTN 3.25 PTS 3.50
  4. TOEFL ITP 500/IBT 61, atau IELTS 5.5
Beasiswa Degree Jenjang S3:
Mahasiswa Baru
  1. Maksimal 37 tahun
  2. Memiliki LoA Unconditional perguruan tinggi minimal akreditasi B
  3. IPK S2, PTN 3.25 PTS 3.50
  4. TOEFL ITP 500/IBT 61, atau IELTS 5.5
Mahasiswa On Going
  1. Maksimal 37 tahun
  2. Maksimal semester 3 pada perguruan tinggi minimal akreditasi B
  3. IPK S2, PTN 3.25 PTS 3.50
  4. TOEFL ITP 500/IBT 61, atau IELTS 5.5
Kelengkapan Berkas Beasiswa Degree:
Mahasiswa Baru
  1. Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  2. LoA Unconditional
  3. Ijazah dan transkrip nilai terakhir
  4. Sertifikat TOEFL ITP/IBT atau IELTS (untuk S1 tidak wajib)
  5. Proposal rencana studi
  6. Surat rekomendasi
  7. Sertifikat prestasi terbaik (bila ada)
Mahasiswa On Going
  1. Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  2. Kartu Tanda Mahasiswa (KTM)
  3. Kartu Hasil Studi (KHS) terakhir
  4. Sertifikat TOEFL ITP/IBT atau IELTS (untuk S1 tidak wajib)
  5. Proposal rencana studi
  6. Surat rekomendasi
  7. Sertifikat prestasi terbaik (bila ada)
Pendaftaran:
Waktu Pendaftaran:
Jadwal Pendaftaran Beasiswa Unggulan Kemdikbud (Kemendikbud) Tahun 2017 Khusus Beasiswa Degree
Batch 1
  1. Pendaftaran 15 Februari – 15 April 2017
  2. Seleksi administrasi dan wawancara 16 April – 10 Mei 2017
  3. Pengumuman 12 Mei 2017
Batch 2
  1. Pendaftaran 1 Juni – 31 Juli 2017
  2. Seleksi administrasi dan wawancara 1 Agustus – 31 Agustus 2017
  3. Pengumuman 1 September 2017
PERSYARATAN DAN PENDAFTARAN BEASISWA NON DEGREE
Berikut info persyaratan Pendaftaran Beasiswa Unggulan Kemdikbud (Kemendikbud) untuk jenis Beasiswa Non Degree tahun 2017:
Persyaratan:
  1. Surat permohonan kepada Kepala Biro PKLN
  2. Daftar riwayat hidup (Curriculum Vitae)
  3. Surat undangan dari penyelenggara
  4. Materi/bahan/proposal yang relevan dengan penyelenggaraan kegiatan
  5. Essay minimal 500 kata tentang manfaat dari kegiatan
  6. Usulan rincian biaya
Pendaftaran:
Mengirim seluruh dokumen persyaratan kepada:
Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Gedung C Lantai 7 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, 10270
(offline only)
Waktu Pendaftaran:
Jadwal Pendaftaran Beasiswa Unggulan Kemdikbud (Kemendikbud) Tahun 2017 Khusus Beasiswa Non Degree

BEASISWA UNGGULAN KEMDIKBUD TAHUN 2017 B#1

BEASISWA UNGGULAN KEMDIKBUD TAHUN 2017 B#1

February 15 - April 15

Telah dibuka kembali Beasiswa Unggulan Kemdikbud 2017 untuk S1, S2 dan S3. Sesuai Permendikbud nomor 95 tahun 2013 tentang Beasiswa Unggulan, maka beasiswa diberikan kepada putra-putri terbaik bangsa Indonesia. Beasiswa Unggulan Masyarakat Berprestasi (MAPRES) terdiri dari Beasiswa Degree dan Beasiswa NonDegree. Beasiswa Degree adalah Beasiswa Unggulan Kemdikbud (Kemendikbud) yang ditujukan kepada:
  • Peraih medali/penghargaan olimpiade/kompetisi internasional  di bidang : sains, penelitian ilmiah, keterampilan, seni,  olah raga, dan bahasa yang dilaksanakan dan difasilitasi oleh Kemendikbud dan/atau oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
  • Masyarakat berprestasi tingkat nasional atau internasional di segala bidang dan umum (kecuali dosen)
  • Beasiswa Degree hanya diperuntukan untuk tujuan dalam negeri.
Beasiswa Non Degree adalah Beasiswa Unggulan Kemdikbud (Kemendikbud) yang diperuntukan bagi masyarakat berprestasi (guru, tenaga kependidikan pada tingkat PAUD sampai SMA/SMK, pegiat budaya, seniman dan pegiat sosial kecuali dosen) untuk mengikuti program residensi, menjadi pembicara dalam workshop atau konferensi, utamanya bidang pendidikan dan kebudayaan. Program beasiswa ini bukan beasiswa bantuan riset studi. Pendaftaran beasiswa Non Degree dilakukan dengan cara mengirimkan berkas pendaftaran ke kantor sekretariat Beasiswa Unggulan.

PERSYARATAN DAN KELENGKAPAN BERKAS BEASISWA DEGREE
Berikut info persyaratan Pendaftaran Beasiswa Unggulan Kemdikbud (Kemendikbud) untuk jenis Beasiswa Degree tahun 2017:
Beasiswa Degree Jenjang S1:
Mahasiswa Baru
  1. Maksimal 22 tahun
  2. Memiliki LoA Unconditional perguruan tinggi minimal akreditasi B

Mahasiswa On Going
  1. Maksismal 22 tahun
  2. Maksimal semester 3 pada perguruan tinggi minimal akreditasi B
  3. IPK, PTN 3.00 PTS 3.25
  4. Jenjang S1 tidak memerlukan TOEFL/IELTS

Beasiswa Degree Jenjang S2:
Mahasiswa Baru
  1. Maksimal 32 tahun
  2. Memiliki LoA Unconditional perguruan tinggi minimal akreditasi B
  3. IPK S1, PTN 3.25 PTS 3.50
  4. TOEFL ITP 500/IBT 61, atau IELTS 5.5

Mahasiswa On Going
  1. Maksimal 32 tahun
  2. Maksimal semester 3 pada perguruan tinggi minimal akreditasi B
  3. IPK S1, PTN 3.25 PTS 3.50
  4. TOEFL ITP 500/IBT 61, atau IELTS 5.5

Beasiswa Degree Jenjang S3:
Mahasiswa Baru
  1. Maksimal 37 tahun
  2. Memiliki LoA Unconditional perguruan tinggi minimal akreditasi B
  3. IPK S2, PTN 3.25 PTS 3.50
  4. TOEFL ITP 500/IBT 61, atau IELTS 5.5

Mahasiswa On Going
  1. Maksimal 37 tahun
  2. Maksimal semester 3 pada perguruan tinggi minimal akreditasi B
  3. IPK S2, PTN 3.25 PTS 3.50
  4. TOEFL ITP 500/IBT 61, atau IELTS 5.5

Kelengkapan Berkas Beasiswa Degree:
Mahasiswa Baru
  1. Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  2. LoA Unconditional
  3. Ijazah dan transkrip nilai terakhir
  4. Sertifikat TOEFL ITP/IBT atau IELTS (untuk S1 tidak wajib)
  5. Proposal rencana studi
  6. Surat rekomendasi
  7. Sertifikat prestasi terbaik (bila ada)

Mahasiswa On Going
  1. Kartu Tanda Penduduk (KTP)
  2. Kartu Tanda Mahasiswa (KTM)
  3. Kartu Hasil Studi (KHS) terakhir
  4. Sertifikat TOEFL ITP/IBT atau IELTS (untuk S1 tidak wajib)
  5. Proposal rencana studi
  6. Surat rekomendasi
  7. Sertifikat prestasi terbaik (bila ada)

Pendaftaran:
Waktu Pendaftaran:
Jadwal Pendaftaran Beasiswa Unggulan Kemdikbud (Kemendikbud) Tahun 2017 Khusus Beasiswa Degree
Batch 1
  1. Pendaftaran 15 Februari – 15 April 2017
  2. Seleksi administrasi dan wawancara 16 April – 10 Mei 2017
  3. Pengumuman 12 Mei 2017
Batch 2
  1. Pendaftaran 1 Juni – 31 Juli 2017
  2. Seleksi administrasi dan wawancara 1 Agustus – 31 Agustus 2017
  3. Pengumuman 1 September 2017

PERSYARATAN DAN PENDAFTARAN BEASISWA NON DEGREE
Berikut info persyaratan Pendaftaran Beasiswa Unggulan Kemdikbud (Kemendikbud) untuk jenis Beasiswa Non Degree tahun 2017:
Persyaratan:
  1. Surat permohonan kepada Kepala Biro PKLN
  2. Daftar riwayat hidup (Curriculum Vitae)
  3. Surat undangan dari penyelenggara
  4. Materi/bahan/proposal yang relevan dengan penyelenggaraan kegiatan
  5. Essay minimal 500 kata tentang manfaat dari kegiatan
  6. Usulan rincian biaya

Pendaftaran:
Mengirim seluruh dokumen persyaratan kepada:
Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Gedung C Lantai 7 Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta, 10270
(offline only)

Waktu Pendaftaran:
Jadwal Pendaftaran Beasiswa Unggulan Kemdikbud (Kemendikbud) Tahun 2017 Khusus Beasiswa Non Degree

http://simawa.unnes.ac.id

Saturday, 25 March 2017

Integrating Technology into Secondary Language Teaching


Integrating Technology into Secondary Language Teaching
(Graham Stanley)
Secondary Education
It takes places during the school day, at school either funded by state or privately financed, and after school in language academies, where learners are sent by their parents for additional English classes, usually to reinforce the English being learned at school, or to help the learners prepare for specific examination. It refers to age 11-18.

Growth of Technology Use
There is a tremendous growth ICT across the board in the recent years. Like European, many teachers interest using ICT. US also has developed National Educational Technology Plan for transforming education through technology. Educational and Technology have a tightly intertwined future. This development also gives many benefits like successful in teaching.  

Teacher Training and Continuing Professional Development and ICT
Research indicates that Training in ICT skills is crucial in implementing ICT integration in the teaching and learning of English, and the extent to which teachers are given time and access to pertinent training to use computers to support learning plays a major role in determining whether or not technology has a major impact on achievement. Generally, teachers are using readily available, free online tools and are finding out how to use them through social networks and online communities of practice.
Personal learning networks (PLNs) developed out of the idea of building a personal learning environment (PLE), which is built out of collection of web tools set up and owned by the learner.

Case Study 2.1: Telecollaboration at a Secondary School in Egypt
The study is done by Ayat. She teaches pre-intermediate to intermediate level. She uses technology in teaching process since join TESOL Electronic Village Online. She believes and thinks that the best way of developing professionally is by sharing with colleague around the world through online. She thinks that learning language must be communicative, through technology. It is not enough just teach in classroom and past the test, but in real life situation. She interests in using skype (www.skype.com) as her media. It provide user to communicate with the authentic audience and authentic atmosphere in communicating. She thinks that she have to manage the telcollaoration, important factor if online exchanges are to be effective. It must be planned as authentic as possible and well preparation from the teacher. Ayat’s class started to prepare question, she encouraged learners to ask any questions they wanted. But there is no interest of them. Then she uses computer as media, and it makes them interested and more motivated. The activity was successful, and she decided to continue telecollaboration. She also believes that making a group like on face book is very important to set a rule that all communicating in English. Ayat also uses skype to improve listening skill, vocabulary in natural way. She also make collaborative online book as a media to share information.

Web 2.0
It is a social web that allow for some degree of content creation and communication, and it is ideal for language learning. It is a blog, that teacher can share journal in publish information about a course. Blogger (www.blogger.com) has encouraged many teachers to embrace online publishing who otherwise would not have done so. It is good to share information, culture, project, in written way to understand the knowledge.
The popular online publishing used by secondary school teacher and learners is wiki. It is collaborative web space allowing for pages that can be created and edited by multiple users easily without any knowledge of web design. It is similar to the blog, but it has more flexible structure and good for project work. The development of web 2.0 is combination between iPod and broadcast or podcasts (audio and video via internet online). It provides many tools to make creation and sharing easily.


Case Study 2.2: Sharing the Experience of Web Tools in Brazil
Ana as users of web 2.0 feels that the technology is very helpful for her in teaching. She starts with class upper intermediate aged 15-16 with the objectives extra writing, reading, listening, and speaking practice at home. Every week one volunteer creates a short text based on the dictation of listening. Then the teachers correct it. It also be done by other in different way. She decide to record the process or correcting to provide a good correctness for the children as a feedback. Post online can motivate the learners to learn more. She also uses twitter, facebook, and blog. She also choose voki (www.voki.com) to share video and audio. Ana also uses edmodo (www.emodo.com) as educational private network with her learner. It is useful to share link, discussion, and chats with classmates.

Research and Practice
At the heart of the issue that the using of technology in classroom improve acquisition or development of language skill. CALL also helps secondary learners with listening and writing with some suggestion that speaking can also be improved. The researches on whether CALL improves reading, and on the acquisition of grammar and vocabulary were inconclusive. Leraner perceives an increase in confidence in engaging in real learning experiences not found in books and speaking activities. It is frighten that using technology is more emphasized than pedagogy. It is not sure that web tool is effective or not. Certainly, technology is effective, but why is it effective? Others believe that “ until technology becomes normalized, there is typically too much focus on the technology itself and not enough on how its used pedagogically, socially, politically, or ecologically.

Normalization of ICT
Normalization can be defined as the stage in which CALL finally becomes invisible, serving the needs of learners and integrated into every teachers everyday practice. There are definite signs of a more fully integrated approaches to CALL emerging because of web 2.0

Integration of ICT in Secondary Language Teaching
Aside from web 2.0 more traditional uses of ICT continue too. Jewell points out that may stand alone applications such as processing and presentation software (For example: power point) can be used effectively by secondary school learners to improve their language skill through research and by sharing their finding in oral presentations which also provides real world context and technological skill and enable students to develop confidence in their language abilities.

Case Study 2.3: Digital Story Telling in Argentina
It is done by Vicky Saumell from kindergarten to secondary level. She has been worked 20 years and using technology for six years, first becoming interested through the webheads in Action Community of practice (http:webheadsinaction.org). Since then, she develops ICT in her classroom using technology in teaching practice. She focuses would be on project-based learning more direct at their students’ interest and knowledge, in order to better engage them in learning process. A wiki (http://isfa.wikispaces.com) was set up to be used as a project repository and to keep record of which project were done with which class. 

Digital Literacy and Mobile Learning
Digital literacy is the ability to understand and use information in multiple formats from a wide range of sources when it is presented via computers. In one thing is certain to be literate in the 21 century requires a more multimodal approaches because multimodality is more pervasive, diverse, and important today than ever before.
Mobile Assisted Language Learning (MALL) is one of the most interesting emerging types of technology enhanced learning, especially now that mobile devices are carried by more and more people every day and it has envolved from a simple voice device to a multimedia communications tool capable to download, upload, data, ect. It has spreaded out over the world as the high technology. It is important to be used in secondary education. It can be implicated to the students of learning language.

Case Study 2.4: Mobile Learning Inside and Outside of the Classroom in Turkey
Karin Tirasin is a secondary school teacher from Norway, who works at the private high school Saglik ve Egitim, in Izmir Turkey where she has been a teacher for ten years. She started a mobile project which shows a very innovative bring your own device approaches to using technology owned by learners in the classroom, with the learners making use of different of (mainly) smartphones. The students are divided into 3 groups of three with one phone per group. They used phone as a data collection tool, taking pictures, recording videos, documenting, taking special notice of any mistakes that had been made with translation. Then they create a webpage using Doodle Kit (http://doodlekit.com), a free website builder. Use of mobile on the learning was successful, but there are some problems like old version of mobile that make difficulties in transferring data such as video and audio, the battery life (short life), time consuming in registering to the web 2.0 tool. But it will be going on well if the teacher can anticipate it. Fortunately, students are happy using smartphone in class activity. But, it also must have an approval of the principal or head master from school to get permission. It will give many benefits if we use technology for specific kind reasors.

Innovations in 
learning technologies for 
English language teaching
edited by Gary Motteram


Post Unggulan

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Wisata Edukasi dan Sejarah

Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Wisata Edukasi dan Sejarah My Own Property Yogyakarta memang terkenal dengan beragam wisatanya...

Popular Posts